Direktur Pelaksana ADB Rajat M Nag mengatakan, inflasi tahun 2008 dapat melampaui angka tahunan 5,1% yang diperkirakan April lalu. Harga bahan bakar dan pangan yang membumbung merupakan bahaya utama yang mendorong inflasi yang akan berdampak pada "kisah pertumbuhan baik" Asia. Inflasi yang meningkat juga dapat menggagu investasi dan pendapatan perusahaan, dan menggoyahkan sejumlah pemerintah di kawasan. Hari Jumat India menyatakan, inflasi di negara itu meningkat dengan laju tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sebelumnya bulan ini Korea Selatan mengumumkan inflasi mencapai angka tertinggi dalam tujuh tahun akibat meningkat harga energi dan pangan. Di Vietnam inflasi mencapai lebih dari 25% dan pemerintah mengatakan, masalah ini adalah tantangan terbesar yang mereka hadapi. Singapura, Thailand, Filipina dan Indonesia menghadapi angka inflasi antara 7,5% dan 11%.
ADB memperkirakan pertumbuhan sebesar 7,6% bagi Asia di tahun 2008, turun dari 8,7% tahun 2007, yang merupakan angka tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Nag mengatakan, pihak berwenang keuangan dan fiskal Asia harus "menyadari inflasi sebagai kekhawatiran sangat besar" dan dia mengisyaratkan, menaikkan suku bunga merupakan salah satu solusinya. Inflasi "dapat membahayakan pertumbuhan di Asia", katanya, dan menambahkan bahwa "bank-bank sentral harus mengambil semua langkah, termasuk meninjau suku bunga seperti yang telah dilakukan India." Hari Rabu Bank Sentral India menaikkan suku bunga pinjaman jangka pendek sebesar 0,25 persen menjadi 8%. Harga pangan yang meningkat didongkrak oleh naiknya biaya bahan bakar yang meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Pajak yang menyebabkan 'kemunduran' Negara-negara Asia seperti India, Malaysia dan Indonesia baru-baru ini mengurangi subsidi bahan bakar ditengah meningkatnya harga minyak dunia, yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi lagi. "Inflasi adalah bentuk pajak yang paling menyebabkan kemunduran dan berdampak paling besar terhadap rakyat miskin. Di Asia, sekitar satu miliar orang sangat rentan terhadap naiknya harga pangan dan bahan bakar," kata Nag. Dia mengatakan, pemerintah berbagai negara harus memastikan ada "dukungan dana tunai tepat sasaran" bagi rakyat miskin untuk melindungi mereka dari harga yang meningkat, katanya. Jumlah warga miskin di Asia adalah 2/3 dari warga miskin dunia. Asia berhasil mengurangi angka kemiskinan menjadi sekitar 19% dari 33% di tahun 1990, namun Nag mengatakan kemajuan ini sekarang terancam oleh inflasi. Bulan April lalu ADB menawarkan bantuan kepada negara-negara yang terkena dampak meningkatnya harga pangan. ADB mengatakan, bantuan pinjaman akan disediakan bagi negara-negara itu agar dapat digunakan sebagai subsidi bahan-bahan pokok guna membantu rakyat miskin. | ||||||
Tuesday, November 9, 2010
Laju inflasi 'ancam Asia'
PENGARUH INFLASI TERHADAP NILAI KURS PASAR VALUTA ASING INDONESIA SELAMA PERIODE AGUSTUS 1997 SAMPAI SEPTEMBER 2002
Globalisasi perdagangan bebas diseluruh dunia, yang secara langsung berpengaruh terhadap kondisi perekonomian suatu negara. Persaingan global mendorong pemerintah lebih memperhatikan berbagai aspek, khususnya aspek ekonomi. Era globalisasi sendiri merupakan sesuatu yang positif, dalam pengertian sebagai proses di mana ekonomi semua negara saling berinteraksi secara timbal balik satu sama lain, dan dengan demikian memberi peluang bagi masing-masing Negara untuk mengembangkan dan meningkatkan ekonominya. Proses globalisasi sendiri dapat diidentifikasikan dalam lima ciri pokok yaitu : pertumbuhan transaksi keuangan internasional yang cepat; pertumbuhan perdagangan yang cepat; gelombang investasi asing langsung yang mendapat dukungan luas dari kalangan perusahaan trans-nasional; timbulnya pasar global; penyebaran teknologi dan komunikasi yang semakin canggih.<p> Masuknya Globalisasi di bidang ekonomi dan informasi tidak dapat dihindari, begitu juga dengan pasar keuangan. Kemajuan teknologi dan adanya komunikasi yang semakin cepat mendorong terjadinya integrasi pasar-pasar keuangan diseluruh dunia ke dalam pasar keuangan internasional. Kemajuam sistem telekomunikasi yang menghubungkan secara langsung pelaku pasar di<p> seluruh dunia sehingga transaksi dapat dilakukan tidak hanya dalam hitungan hari atau jam tetapi sudah menit, bahkan detik. Perintah-perintah penjualan atau pembelian dilakukan secara cepat, sehingga banyak perusahaan dan investor dapat memonitor pasar-pasar global.<p> Kebanyakan perusahaan-perusahaan Multinasional berusaha memperoleh dana dari pasar valuta asing, karena dianggap bisa memberikan dana yang besar. Perusahaan-perusahaan tersebut berlomba-lomba menanamkan investasinya pada pasar valuta asing, agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Pasar valuta asing ini menjangkau seluruh bagian dunia, dimana harga-harga mata uang senantiasa bergerak setiap saat. Harga dari satu mata uang dalam mata uang lain merupakan hasil dari kekuatan penawaran dan permintaan. Peranan dollar Amerika (US$) di dalam pasar valuta asing memiliki kedudukan yang khusus sebagai mata uang internasional atau mata uang penggerak dan mendenominasi transaksi-transaksi internasional. <p> Pasar valuta asing hanya dipengaruhi oleh tingkat pembelian dan penjualan untuk mendukung perdagangan yang sebenarnya dalam barang dan jasa, akan mudah untuk memperkirakan kurs mata uang asing. Sayangnya, terdapat banyak kekuatan dan motif lain yang mempengaruhi pembelian dan penjualan mata uang. Arus modal jangka pendek dan jangka panjang serta pembelian dan penjualan spekulasi merupakan sumber yang besar dari penawaran dan permintaan akan mata uang asing.<p> Nilai sebuah mata uang, yakni nilai tukarnya terhadap mata uang lain, tergantung pada daya tarik mata uang tersebut di pasar. Jika permintaan akan sebuah mata uang tinggi, maka harganya akan naik relatif terhadap mata uang lainnya. Akan tetapi, perubahan dalam kondisi politik suatu negara atau menurunnya perekonomian akibat laju inflasi yang tinggi dan defisit perdagangan, dapat juga mengakibatkan nilai sebuah mata uang yang stabil jatuh, karena para investor lebih memilih menukarkan uangnnya ke mata uang lain yang dianggap lebih stabil.<p> Selama empat tahun ini Indonesia belum dapat menyelesaikan masalah perekonominya. Berbagai upaya telah dilakukan agar indonesia keluar dari krisis yang melanda sejak 1997, akibat penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Hal tersebut sangat mempengaruhi semua aktivitas perekonomian seperti: terjadinya kesenjangan antara sektor moneter dengan sektor riil yang semakin melebar, dari segi permintaan terjadi peningkatan untuk pembelian dollar di mana cadangan devisa yang digunakan untuk memasok permintaan tersebut sangat terbatas, adanya proyek-proyek yang sifatnya konsumtif, waktu jatuh tempo utang swasta yang membengkak. Kondisi semacam ini semakin memuncak hingga rupiah terperosok pada titik yang terendah.<p> Kenaikan laju inflasi di Indonesia mengakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Pada tahun 1997 laju inflasi sebesar 11,1%, diikuti pula tahun 1998 tingkat inflasi mencapai 77,36%. Inflasi terjadi akibat<p>peningkatan para spekulasi terhadap nilai tukar serta melonjaknya permintaan pasar karena adanya ketidakpastian harga. Tahun 1999 tingkat inflasi relatif terkendali sebesar 2,01%, sedangkan pada tahun 2000 tingkat inflasi melonjak kembali melebihi angka yang telah ditargetkan sebesar 9,35%. Sementara itu tahun 2001 diperkirakan laju inflasi berada di level 4-6%, juga di tahun 2002 dan 2003 laju inflasi diperkirakan di level 7-9%.<p> Upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi tingkat inflasi di indonesia, pemerintah harus mempunyai suatu kebijakan yang dapat menekan tingkat inflasi dan menciptakan stabilitas moneter yang merupakan persoalan struktural dalam perekonomian indonesia. Kesemuanya itu tidak mudah dan memerlukan kehati-hatian yang mendalam. Informasi mengenai faktor utama yang menyebabkan kenaikan laju inflasi sangat diperlukan sebelum pemerintah mengambil kebijakan yang tepat untuk menekan laju inflasi yang berlebihan.` Peranan nilai tukar dalam perdagangan internasional, sangat mempengaruhi apakah seorang investor, importir, pengusaha, maupun lembaga bisnis lainnya akan melakukan kegiatannya. Sebagai upaya untuk mengetahui bagaimana suatu nilai tukar valuta asing terbentuk, seseorang perlu memperhatikan aspek perubahan kurs, sehingga dengan demikian dapat mengestimasi arah dari perubahan kurs yang akan datang.<p> Berdasarkan keterangan di atas, bahwa semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serta tingginya inflasi yang akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat cenderung meningkatkan konsumsi impornya, sehingga terjadi ketidak seimbangan antara nilai ekspor dengan impor. Berangkat dari fenomena tersebut, maka dapat ditarik judul “Pengaruh Inflasi Terhadap Nilai Kurs Rp/US$ Pasar Valuta Asing Indonesia Selama Periode Agustus 1997 sampai September
http://repository.unikom.ac.id/repo/sector/perpus/view/jiptumm-gdl-s1-2002-tri-8800-inflasi.html
http://repository.unikom.ac.id/repo/sector/perpus/view/jiptumm-gdl-s1-2002-tri-8800-inflasi.html
Inflasi terendah dalam 10 tahun
Kenaikan TDL BBM harus jadi opsi terakhir
OLEH AGUST SUPRIADI NANA OKTAVIA MUSUANA
Bisnis indonesia
JAKARTA Laju inflasi Indonesia sepanjang tahun lalu tercatat 2,78% atau terendah dalam 10 tahun terakhir menyusul terjadinya penurunan harga pada administered price.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan selama periode Januari-Desember 2009, rata-rata laju inflasi 2.78% atau jauh di bawah target APBN-P 2009 yang dipatok 4,5%.
Rendahnya inflasi tersebut terutama dikarenakan harga barang yang ditentukan pemerintah {administered price) mengalami deflasi sebesar 326%.
"Inflasi 2009 merupakan pencapaian inflasi terendah setidaknya sepanjang 10 tahun terakhir. Bahkan, pada era orde baru target inflasi 5 % pun tidak pernah tercapai, jelasnya, kemarin.
Rendahnya inflasi 2009 juga didukung oleh tidak adanya kebijakan yang memicu inflasi terhadap administered price, baik itu tarif dasar listrik maupun BBM Adapun kontribusi inflasi inn tercatat 4,28%.Pada bagian lain, BPS menyebutkan angka inflasi Desember 2009 mencapai 0,33%. Menurut Rusman, inflasi ini sedikit berbeda dari biasanya, di mana kontribusi harga bahan makanan justru negatif terhadap penciptaan inflasi pada bulan itu.
Jadi prestasi
Dalam kesempatan berbeda, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui laju inflasi 2009 memang jadi salah satu prestasi ekonomi sepanjang 2009. Selain
menyoroti inflasi dia juga menyebut pemerintah telah menjalankan program 100 hari sekitar 92%. "Inflasi cukup rendah sehingga bisa kita katakan dalam situasi resesi dan di belahan negara lain tumbuh tidak menggembirakan, Indonesia masih bisa tumbuh positif."
Menkeu Sri Mulyani Indrawati menilai secara umum kinerja perekonomian tahun Lalu memuaskan meskipun dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah.Sejumlah indikator yang menguatkan terjadinya perbaikan itu a.L pertumbuhan ekonomi 43%-4,4%, nilai tukar ratarata berkisaT Rpl0300/US$-Rpl0.400/USS atau mengalami apresiasi 15% dari posisi tahun sebelumnya.
"Walaupun ekspor terkon-traksi, ada capital inflow cukup besar, cadangan devisa mencapai posisi tertinggi Selama ini US$65.8 miliar."
Untuk tahun ini, pemerintah memperkirakan cadangan devisa hingga akhir tahun bisa memcapai USS73 miliar. Rusman menambahkan target laju inflasi 5% akan dapat terwujud jika suplai dan distribusi barang dan jasa sebaik tahun lalu. Akan tetapi, dia mengingatkan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi jika ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM). "Kenaikan TDL dan BBM sebaiknya jadi opsi terakhir karena multiplier effect yang besar. Laju inflasi bisa kembali normal ke 12%-13%. agusuupnadiS-
tTK m iff rymn nbr(flinQhr*ni tn i(f)
http://bataviase.co.id/detailberita-10477866.html
OLEH AGUST SUPRIADI NANA OKTAVIA MUSUANA
Bisnis indonesia
JAKARTA Laju inflasi Indonesia sepanjang tahun lalu tercatat 2,78% atau terendah dalam 10 tahun terakhir menyusul terjadinya penurunan harga pada administered price.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan selama periode Januari-Desember 2009, rata-rata laju inflasi 2.78% atau jauh di bawah target APBN-P 2009 yang dipatok 4,5%.
Rendahnya inflasi tersebut terutama dikarenakan harga barang yang ditentukan pemerintah {administered price) mengalami deflasi sebesar 326%.
"Inflasi 2009 merupakan pencapaian inflasi terendah setidaknya sepanjang 10 tahun terakhir. Bahkan, pada era orde baru target inflasi 5 % pun tidak pernah tercapai, jelasnya, kemarin.
Rendahnya inflasi 2009 juga didukung oleh tidak adanya kebijakan yang memicu inflasi terhadap administered price, baik itu tarif dasar listrik maupun BBM Adapun kontribusi inflasi inn tercatat 4,28%.Pada bagian lain, BPS menyebutkan angka inflasi Desember 2009 mencapai 0,33%. Menurut Rusman, inflasi ini sedikit berbeda dari biasanya, di mana kontribusi harga bahan makanan justru negatif terhadap penciptaan inflasi pada bulan itu.
Jadi prestasi
Dalam kesempatan berbeda, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui laju inflasi 2009 memang jadi salah satu prestasi ekonomi sepanjang 2009. Selain
menyoroti inflasi dia juga menyebut pemerintah telah menjalankan program 100 hari sekitar 92%. "Inflasi cukup rendah sehingga bisa kita katakan dalam situasi resesi dan di belahan negara lain tumbuh tidak menggembirakan, Indonesia masih bisa tumbuh positif."
Menkeu Sri Mulyani Indrawati menilai secara umum kinerja perekonomian tahun Lalu memuaskan meskipun dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah.Sejumlah indikator yang menguatkan terjadinya perbaikan itu a.L pertumbuhan ekonomi 43%-4,4%, nilai tukar ratarata berkisaT Rpl0300/US$-Rpl0.400/USS atau mengalami apresiasi 15% dari posisi tahun sebelumnya.
"Walaupun ekspor terkon-traksi, ada capital inflow cukup besar, cadangan devisa mencapai posisi tertinggi Selama ini US$65.8 miliar."
Untuk tahun ini, pemerintah memperkirakan cadangan devisa hingga akhir tahun bisa memcapai USS73 miliar. Rusman menambahkan target laju inflasi 5% akan dapat terwujud jika suplai dan distribusi barang dan jasa sebaik tahun lalu. Akan tetapi, dia mengingatkan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi jika ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM). "Kenaikan TDL dan BBM sebaiknya jadi opsi terakhir karena multiplier effect yang besar. Laju inflasi bisa kembali normal ke 12%-13%. agusuupnadiS-
tTK m iff rymn nbr(flinQhr*ni tn i(f)
http://bataviase.co.id/detailberita-10477866.html
inflasi indonesia membumbung tinggi
Inflasi Indonesia Membumbung Tinggi
(Presiden Susilo Bambambang Yudhoyono senantiasa
berfikir keras untuk dapat memakmurkan rakyat
Indonesia)
Perekonomian Indonesia diterpa inflasi tertinggi dalam
empat tahun. Inflasi bulan Oktober 2005 sebesar 8,7
persen, sementara sepanjang Januari Oktober 2005,
laju inflasi mencapai 15,65 persen. Sebelum semakin
terpuruk, sejumlah jurus dipersiapkan pemerintah
Indonesia. Desas-desus tentang pergantian kabinet pun
makin santer.
Di awal bulan ini, Trisanti punya kesibukan baru,
mengais-ngais sisa tabungan. Staf pemasaran sebuah
perusahaan otomotif di Jakarta ini pusing tujuh
keliling untuk menutupi pengeluaran bulannya.
Bagaimana tidak? Semakin membumbungnya ongkos
transportasi sehari-hari, membuat lajang yang kos di
Jakarta ini kebobolan kantongnya. Belum lagi
melonjaknya harga makanan. Sementara gaji tak kunjung
naik.
Inflasi Tertinggi
Pengaruh inflasi begitu terasa baginya. Inflasi
menjelang akhir tahun ini memang cukup gila-gilaan.
Ketua Badan Pusat Statistik BPS Choiril Maksum,
mengumumkan di bulan Oktober ini inflasi meroket 8,7
persen. Sementara sepanjang Januari sampai Oktober
2005, laju inflasi mencapai 15,65 persen. Dan rekor
pun pecah: inilah angka inflasi tertinggi dalam 4
tahun.
Tindakan Pemerintah
Inflasi selangit ini tentu tak bisa dibiarkan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumpulkan para
menteri untuk mencari cara mengatasinya. Menteri
Perekonomian Indonesia, Aburizal Bakrie yang dipanggil
khusus ke Cikeas, rumah kediaman presiden, harus putar
otak mengatur jurus-jurus ampuh.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut, kenaikan harga
BBM sebelum lebaran merupakan pemicu utama tingginya
inflasi. Namun ia berjanji pemerintah akan
mengerahkan segala upaya untuk mengendalikan dan
menstabilkan harga barang-barang, terutama kebutuhan
sehari-hari seperti bahan pangan, selain menjaga stok
BBM.
Kesalahan Pemerintah
Lain halnya dengan Faisal Basri. Pengamat ekonomi ini
berpendapat, yang menjadi gara-gara dari inflasi
tinggi dan kenaikan suku bunga yang memukul
perekonomian ini karena pemerintah salah langkah. Kata
Faisal, sangat tidak realistis untuk menyelesaikan
masalah sakitnya perekonomian hanya dengan menggunakan
satu jurus pamungkas, yakni kenaikan harga BBM sebesar
114 persen. Hiperinflasi inilah akibat yang harus
dipikul.
Bantuan Langsung Tunai
Pemerintah memang menggulirkan beberapa obat penawar
rasa sakit dalam bentuk paket kemudahan bagi dunia
usaha seperti paket fiskal, reformasi di bidangtata
niaga dan transportasi serta kebijakan di bidang
perberasan. Pemerintah juga mengucurkandana bantuan
langsung tunai (BLT) bagi setiap keluarga miskin
sebesar Rp 100.000 per bulan yang dibayarkan di muka
sekaligus untuk tiga bulan tetapi di lapangan, semua
kebijakan itu menimbulkan masalah tersendiri. Namun
demikian, sebagian pengkritik BLT terkesan
menyandarkan argumennya bukan berdasarkan teori
ekonomi tetapi lebih karena alasan
ideologis-penyebaran agama.
Faisal Basri kembali menunjuk melonjaknya harga BBM
sebagai faktor memperpanjang penderitaan rakyat.
Kenaikan Suku Bunga
Tingginya inflasi dibarengi kenaikan suku bunga Bank
Indonesia hingga 12,25 persen. Bank Indonesia bisa
jadi akan terus menaikan suku bunga untuk meredam laju
inflasi yang begitu tinggi. Ini akan menambah berat
tekanan pada perbankan: penyaluran kredit akan makin
seret. Angka kredit bermasalah juga akan naik, karena
pengutang kesulitan membayar cicilan. Sudah pasti
keuntungan menyusut dan kerugian semakin mengancam.
Kondisi Dunia Usaha
Perekonomian nasional akan mendapat guncangan
berikutnya, yakni tertahannya kegiatan investasi,
sehingga pertumbuhan ekonomi tidak sebesar yang
diperkirakan. Menghadapi tekanan yang bertubi-tubi
begini, dunia usaha bisa kalang kabut. Wakil Ketua
Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Mintardjo Halim
mengatakan, bunga perbankan yang tinggi, misalnya
18-20 persen akibat laju inflasi, sehingga kalangan
pengusaha juga enggan mengambil kredit. Keadaan yang
sudah buruk ini, kata pengusaha Anton Supit, akan
makin buruk lagi dengan jauh menurunnya daya beli
masyarakat.
Kebijakan Yang Harus Diambil
Ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean mengatakan,
pekerjaan rumah pemerintah bukan cuma di bidang
moneter atau kebijakan keuangan. Melainkan juga
sektor-sektor kongkret. Misalnya, bila ingin
memperkuat sumber daya alam, maka kebijakan di bidang
itu harus diperkuat.
Perombakan kabinet apakah relevan?
Meningkatnya suhu ekonomi akibat inflasi, memanaskan
pula suhu politik yang sebenarnya sudah membara.
Kasak-kusuk tentang perombakan kabinet makin santer,
terutama menteri-menteri bidang perekonomian.
Lebih-lebih jika dikaitkan dengan janji Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengevaluasi kinerja
para menterinya, bertepatan dengan setahun usia
pemerintahannya. Kendati hingga kini presiden hanya
baru tingkat mengevaluasi, namun tak juga mengambil
keputusan menyangkut posisi para menterinya. Namun
demikian, pergantian kabinet juga berarti, kementrian
yang bersangkutan belajar dari nol kembali.
Kebijakan-kebijakan baru pasti bermunculan, sedangkan
menteri yang baru diangkat setidaknya butuh waktu
untuk menyesuaikan diri. Demikian juga timbul
pertanyaan, apakah pergantian kabinet kondusif bagi
perekonomian, sebaliknya atau hanya akal-akalan
politisi?
Martin Panggabean menilai, penggantian menteri-menteri
ekonomi jika dilakukan, akan merupakan pekerjaan
tersendiri yang jauh dari gampang. Sebab, tak hanya
sekedar kaum profesional yang cakap yang dibutuhkan,
namun perlu disertai dukungan politik dari
partai-partai di parlemen. Martin menambahkan,
penggantian menteri juga harus disertai kebijakan
perekonomian yang lebih pasti.
Pertumbuhan Ekonomi Tertahan
Martin Panggabean menaksir pula, pertumbuhan ekonomi
ke depan masih akan rendah. Angkanya akan sekitar 5
persen di bawah perkiraan awal pemerintah, yang 6
persen. Ia memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada triwulan III dan IV tahun 2005 akan
melambat. Perlambatan pada triwulan III lebih
disebabkan oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah
dan tingginya harga minyak dunia yang berkelanjutan.
Adapun pada triwulan IV perlambatan lebih disebabkan
oleh tingginya inflasi, penurunan produksi serta
menurunnya daya beli masyarakat.
http://www.opensubscriber.com/message/ppiindia@yahoogroups.com/2560477.html
(Presiden Susilo Bambambang Yudhoyono senantiasa
berfikir keras untuk dapat memakmurkan rakyat
Indonesia)
Perekonomian Indonesia diterpa inflasi tertinggi dalam
empat tahun. Inflasi bulan Oktober 2005 sebesar 8,7
persen, sementara sepanjang Januari Oktober 2005,
laju inflasi mencapai 15,65 persen. Sebelum semakin
terpuruk, sejumlah jurus dipersiapkan pemerintah
Indonesia. Desas-desus tentang pergantian kabinet pun
makin santer.
Di awal bulan ini, Trisanti punya kesibukan baru,
mengais-ngais sisa tabungan. Staf pemasaran sebuah
perusahaan otomotif di Jakarta ini pusing tujuh
keliling untuk menutupi pengeluaran bulannya.
Bagaimana tidak? Semakin membumbungnya ongkos
transportasi sehari-hari, membuat lajang yang kos di
Jakarta ini kebobolan kantongnya. Belum lagi
melonjaknya harga makanan. Sementara gaji tak kunjung
naik.
Inflasi Tertinggi
Pengaruh inflasi begitu terasa baginya. Inflasi
menjelang akhir tahun ini memang cukup gila-gilaan.
Ketua Badan Pusat Statistik BPS Choiril Maksum,
mengumumkan di bulan Oktober ini inflasi meroket 8,7
persen. Sementara sepanjang Januari sampai Oktober
2005, laju inflasi mencapai 15,65 persen. Dan rekor
pun pecah: inilah angka inflasi tertinggi dalam 4
tahun.
Tindakan Pemerintah
Inflasi selangit ini tentu tak bisa dibiarkan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumpulkan para
menteri untuk mencari cara mengatasinya. Menteri
Perekonomian Indonesia, Aburizal Bakrie yang dipanggil
khusus ke Cikeas, rumah kediaman presiden, harus putar
otak mengatur jurus-jurus ampuh.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut, kenaikan harga
BBM sebelum lebaran merupakan pemicu utama tingginya
inflasi. Namun ia berjanji pemerintah akan
mengerahkan segala upaya untuk mengendalikan dan
menstabilkan harga barang-barang, terutama kebutuhan
sehari-hari seperti bahan pangan, selain menjaga stok
BBM.
Kesalahan Pemerintah
Lain halnya dengan Faisal Basri. Pengamat ekonomi ini
berpendapat, yang menjadi gara-gara dari inflasi
tinggi dan kenaikan suku bunga yang memukul
perekonomian ini karena pemerintah salah langkah. Kata
Faisal, sangat tidak realistis untuk menyelesaikan
masalah sakitnya perekonomian hanya dengan menggunakan
satu jurus pamungkas, yakni kenaikan harga BBM sebesar
114 persen. Hiperinflasi inilah akibat yang harus
dipikul.
Bantuan Langsung Tunai
Pemerintah memang menggulirkan beberapa obat penawar
rasa sakit dalam bentuk paket kemudahan bagi dunia
usaha seperti paket fiskal, reformasi di bidang
niaga dan transportasi serta kebijakan di bidang
perberasan. Pemerintah juga mengucurkan
langsung tunai (BLT) bagi setiap keluarga miskin
sebesar Rp 100.000 per bulan yang dibayarkan di muka
sekaligus untuk tiga bulan tetapi di lapangan, semua
kebijakan itu menimbulkan masalah tersendiri. Namun
demikian, sebagian pengkritik BLT terkesan
menyandarkan argumennya bukan berdasarkan teori
ekonomi tetapi lebih karena alasan
ideologis-penyebaran agama.
Faisal Basri kembali menunjuk melonjaknya harga BBM
sebagai faktor memperpanjang penderitaan rakyat.
Kenaikan Suku Bunga
Tingginya inflasi dibarengi kenaikan suku bunga Bank
Indonesia hingga 12,25 persen. Bank Indonesia bisa
jadi akan terus menaikan suku bunga untuk meredam laju
inflasi yang begitu tinggi. Ini akan menambah berat
tekanan pada perbankan: penyaluran kredit akan makin
seret. Angka kredit bermasalah juga akan naik, karena
pengutang kesulitan membayar cicilan. Sudah pasti
keuntungan menyusut dan kerugian semakin mengancam.
Kondisi Dunia Usaha
Perekonomian nasional akan mendapat guncangan
berikutnya, yakni tertahannya kegiatan investasi,
sehingga pertumbuhan ekonomi tidak sebesar yang
diperkirakan. Menghadapi tekanan yang bertubi-tubi
begini, dunia usaha bisa kalang kabut. Wakil Ketua
Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Mintardjo Halim
mengatakan, bunga perbankan yang tinggi, misalnya
18-20 persen akibat laju inflasi, sehingga kalangan
pengusaha juga enggan mengambil kredit. Keadaan yang
sudah buruk ini, kata pengusaha Anton Supit, akan
makin buruk lagi dengan jauh menurunnya daya beli
masyarakat.
Kebijakan Yang Harus Diambil
Ekonom Bank Mandiri, Martin Panggabean mengatakan,
pekerjaan rumah pemerintah bukan cuma di bidang
moneter atau kebijakan keuangan. Melainkan juga
sektor-sektor kongkret. Misalnya, bila ingin
memperkuat sumber daya alam, maka kebijakan di bidang
itu harus diperkuat.
Perombakan kabinet apakah relevan?
Meningkatnya suhu ekonomi akibat inflasi, memanaskan
pula suhu politik yang sebenarnya sudah membara.
Kasak-kusuk tentang perombakan kabinet makin santer,
terutama menteri-menteri bidang perekonomian.
Lebih-lebih jika dikaitkan dengan janji Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengevaluasi kinerja
para menterinya, bertepatan dengan setahun usia
pemerintahannya. Kendati hingga kini presiden hanya
baru tingkat mengevaluasi, namun tak juga mengambil
keputusan menyangkut posisi para menterinya. Namun
demikian, pergantian kabinet juga berarti, kementrian
yang bersangkutan belajar dari nol kembali.
Kebijakan-kebijakan baru pasti bermunculan, sedangkan
menteri yang baru diangkat setidaknya butuh waktu
untuk menyesuaikan diri. Demikian juga timbul
pertanyaan, apakah pergantian kabinet kondusif bagi
perekonomian, sebaliknya atau hanya akal-akalan
politisi?
Martin Panggabean menilai, penggantian menteri-menteri
ekonomi jika dilakukan, akan merupakan pekerjaan
tersendiri yang jauh dari gampang. Sebab, tak hanya
sekedar kaum profesional yang cakap yang dibutuhkan,
namun perlu disertai dukungan politik dari
partai-partai di parlemen. Martin menambahkan,
penggantian menteri juga harus disertai kebijakan
perekonomian yang lebih pasti.
Pertumbuhan Ekonomi Tertahan
Martin Panggabean menaksir pula, pertumbuhan ekonomi
ke depan masih akan rendah. Angkanya akan sekitar 5
persen di bawah perkiraan awal pemerintah, yang 6
persen. Ia memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada triwulan III dan IV tahun 2005 akan
melambat. Perlambatan pada triwulan III lebih
disebabkan oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah
dan tingginya harga minyak dunia yang berkelanjutan.
Adapun pada triwulan IV perlambatan lebih disebabkan
oleh tingginya inflasi, penurunan produksi serta
menurunnya daya beli masyarakat.
http://www.opensubscriber.com/message/ppiindia@yahoogroups.com/2560477.html
Inflasi 2010 Bisa Tujuh Persen
Perubahan pola subsidi akan mendorong inflasi tahun depan mencapai tujuh persen.
JAKARTA , Laju inflasi tahun 2010 diperkirakan bisa mendekati tujuh persen. Laju inflasi yang cepat disumbangkan oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered price).
"Proyeksi kami inflasi 2010 adalah 6,7 persen. Bahkan Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 2010 sebesar 7,5 persen.
Perkiraan percepatan laju inflasi juga merupakan akibat dari perubahan harga-harga yang diatur pemerintah, seiring perubahan pola subsidi," kata ekonom Bank Danamon Helmi Arman di Jakarta, Jumat (30/9).
Pada 2010, pemerintah merencanakan perubahan pola subisidi dari harga menjadi terarah (targetted). Subsidi akan diberikan langsung kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, tidak lagi dengan intervensi harga.
Dengan potensi tersebut, menurut Helmi, dibutuhkan upaya ekstra dari otoritas fiskal dan otoritas moneter dalam pengelolaan inflasi.
Otoritas fiskal harus mampu menjaga kecukupan pasokan barang dan jasa, sementara otoritas moneter melakukan stabilisasi nilai tukar dan suku bunga.
Menurut Direktur Statistik Harga BPS Sasmito Hadiwibowo, laju inflasi inti yang lebih lebih rendah dari inflasi umum menunjukkan otoritas fiskal dan moneter mampu meredam inflasi agar tidak terlalu tinggi.
"Pada dasarnya, inflasi yang sepantasnya terjadi adalah inflasi inti. Inflasi inti tidak mudah berubah seiring pergerakan harga barang dan jasa, dan cenderung bersifat permanen," kata Sasmito.
Saat inflasi inti lebih tinggi dibanding inflasi umum, lanjut Sasmito, maka pasti ada ada komponen yang menarik inflasi ke bawah. "Dalam hal ini, komponen tersebut adalah administered price (barang dengan harga diatur pemerintah)," ujar dia.
Inflasi inti adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental, seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, serta keseimbangan permintaan dan penawaran agregat. Ini akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen.
Saat inflasi inti stabil, maka pergerakan harga secara umum dapat dikatakan terjaga.
"Laju inflasi inti yang relatif stabil memang bagus. Namun, inflasi inti yang masih cukup tinggi memberikan gambaran adanya tekanan inflasi di masa mendatang," kata Helmi.
Inflasi inti, lanjut Helmi, menunjukkan faktor fundamental, yang bersifat permanen. "Dampak inflasi inti yang tinggi saat ini menjadi basis adanya potensi tekanan inflasi yang dapat dirasakan tahun depan," kata dia.
Meredam Harga
Pada Agustus, laju inflasi administered price secara tahunan adalah -5,73 persen. "Artinya, pemerintah mampu meredam kenaikan harga sehingga inflasi lebih rendah dari yang sepantasnya," ujar Sasmita.
Pengelolaan inflasi selama September dinilai cukup baik, karena komponen inflasi inti stabil.
"Inflasi inti pada September relatif stabil, yaitu 4,86 persen secara year on year. Pada Agustus, inflasi inti year on year adalah 4,84 persen," kata Helmi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan enggan untuk menilai kinerja pengelolaan inflasi September. "Ada hal yang di luar perhitungan yang terjadi pada September," ujar dia.
Selama ini, lanjut Rusman, kinerja pengelolaan inflasi selalu dinilai dari harga bahan-bahan pokok, terutama makanan.
"Namun pada September, inflasi juga disumbangkan oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi, yang sebelumnya tidak diperhatikan dalam menilai kinerja pengelolaan inflasi," kata dia.
Inflasi untuk bahan pokok sendiri, tambah Rusman, dalam dua bulan terakhir memang cukup cepat.
"Begitu juga inflasi umum. Namun, ada excuse karena kita sudah terbiasa dengan inflasi yang rendah sejak awal tahun," kata dia.
Salah satu barang administered price yang sangat memengaruhi inflasi adalah bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM selalu diikuti dengan percepatan laju inflasi.
Pada 2008, laju inflasi mencapai 11,04 persen akibat kenaikan harga BBM pada akhir Mei. Dalam RAPBN 2010, pemerintah mengajukan besaran anggaran subsidi BBM sebesar 59 triliun rupiah. Meningkat dibandingkan alokasi pada 2009, yaitu 54 triliun rupiah.
aji/E-5
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=22797
JAKARTA , Laju inflasi tahun 2010 diperkirakan bisa mendekati tujuh persen. Laju inflasi yang cepat disumbangkan oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered price).
"Proyeksi kami inflasi 2010 adalah 6,7 persen. Bahkan Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 2010 sebesar 7,5 persen.
Perkiraan percepatan laju inflasi juga merupakan akibat dari perubahan harga-harga yang diatur pemerintah, seiring perubahan pola subsidi," kata ekonom Bank Danamon Helmi Arman di Jakarta, Jumat (30/9).
Pada 2010, pemerintah merencanakan perubahan pola subisidi dari harga menjadi terarah (targetted). Subsidi akan diberikan langsung kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, tidak lagi dengan intervensi harga.
Dengan potensi tersebut, menurut Helmi, dibutuhkan upaya ekstra dari otoritas fiskal dan otoritas moneter dalam pengelolaan inflasi.
Otoritas fiskal harus mampu menjaga kecukupan pasokan barang dan jasa, sementara otoritas moneter melakukan stabilisasi nilai tukar dan suku bunga.
Menurut Direktur Statistik Harga BPS Sasmito Hadiwibowo, laju inflasi inti yang lebih lebih rendah dari inflasi umum menunjukkan otoritas fiskal dan moneter mampu meredam inflasi agar tidak terlalu tinggi.
"Pada dasarnya, inflasi yang sepantasnya terjadi adalah inflasi inti. Inflasi inti tidak mudah berubah seiring pergerakan harga barang dan jasa, dan cenderung bersifat permanen," kata Sasmito.
Saat inflasi inti lebih tinggi dibanding inflasi umum, lanjut Sasmito, maka pasti ada ada komponen yang menarik inflasi ke bawah. "Dalam hal ini, komponen tersebut adalah administered price (barang dengan harga diatur pemerintah)," ujar dia.
Inflasi inti adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental, seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, serta keseimbangan permintaan dan penawaran agregat. Ini akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen.
Saat inflasi inti stabil, maka pergerakan harga secara umum dapat dikatakan terjaga.
"Laju inflasi inti yang relatif stabil memang bagus. Namun, inflasi inti yang masih cukup tinggi memberikan gambaran adanya tekanan inflasi di masa mendatang," kata Helmi.
Inflasi inti, lanjut Helmi, menunjukkan faktor fundamental, yang bersifat permanen. "Dampak inflasi inti yang tinggi saat ini menjadi basis adanya potensi tekanan inflasi yang dapat dirasakan tahun depan," kata dia.
Meredam Harga
Pada Agustus, laju inflasi administered price secara tahunan adalah -5,73 persen. "Artinya, pemerintah mampu meredam kenaikan harga sehingga inflasi lebih rendah dari yang sepantasnya," ujar Sasmita.
Pengelolaan inflasi selama September dinilai cukup baik, karena komponen inflasi inti stabil.
"Inflasi inti pada September relatif stabil, yaitu 4,86 persen secara year on year. Pada Agustus, inflasi inti year on year adalah 4,84 persen," kata Helmi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan enggan untuk menilai kinerja pengelolaan inflasi September. "Ada hal yang di luar perhitungan yang terjadi pada September," ujar dia.
Selama ini, lanjut Rusman, kinerja pengelolaan inflasi selalu dinilai dari harga bahan-bahan pokok, terutama makanan.
"Namun pada September, inflasi juga disumbangkan oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi, yang sebelumnya tidak diperhatikan dalam menilai kinerja pengelolaan inflasi," kata dia.
Inflasi untuk bahan pokok sendiri, tambah Rusman, dalam dua bulan terakhir memang cukup cepat.
"Begitu juga inflasi umum. Namun, ada excuse karena kita sudah terbiasa dengan inflasi yang rendah sejak awal tahun," kata dia.
Salah satu barang administered price yang sangat memengaruhi inflasi adalah bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM selalu diikuti dengan percepatan laju inflasi.
Pada 2008, laju inflasi mencapai 11,04 persen akibat kenaikan harga BBM pada akhir Mei. Dalam RAPBN 2010, pemerintah mengajukan besaran anggaran subsidi BBM sebesar 59 triliun rupiah. Meningkat dibandingkan alokasi pada 2009, yaitu 54 triliun rupiah.
aji/E-5
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=22797
MEREDAM LAJU INFLASI AKHIR TAHUN 2000
Target inflasi yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 7 tanpaknya akan segera direvisi mengingat berbagai pertimbangan terakhir yang dapat memicu kenaikan harga yang pada gilirannya akan memicu tingkat inflasi.
Sementara itu, badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu yang lalu telah mengumumkan perkiraan baru angka inflasi selama tahun 2000 mencapau 9. sampai dengan bulan Agustus, laju inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2000 sebesar 4,71 dan laju inflasi tahun anggaran (April-Agustus)2000 sebesar 3,74.
Sehingga, tinggal empat bulan lagi (September-Desember)2000, mampukah tingkat inflasi terkendali hingga 9. Sebuah pertanyaan yang jawabannya perlu menjadi perhatian pemerintah, khususnya menko perekonomian dan Bank Sentral (bank Indonesia) kaitannya dengan kebijakan moneter.
Berdasarkan pemantauan BPS di 43 kota pada bulan Agustus 2000, tingkat inflasi sebesar 0,15. Tingkat inflasi bulan Agustus ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan Juli 2000 sebesar 1,28. Selama kurun waktu Januari-Agustus 2000, tampaknya bulan Januari 2000 tingkat inflasinya yang tertinggi sebesar 1,32. Sementara itu, khusus bulan Maret 2000 justru terjadi deflasi sebesar minus 0,45%.
Selama bulan Agustus ada beberapa jenis barang dan jasa mengalami kenaikan harga diantaranya uag sekolah/kuliah, gula pasir, roti manis, kontrak rumah, mobil, kacang panjang, angkutan dalam kota, upah tukang, mie, apel, jeruk. Disamping itu, ada beberapa jenis barang yang mengalami penurunan harga, diantaranya daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, emas perhiasan, ikan segar, cabe merah, batu bata, tomat sayur, cabe rawit, beras dan minyak goring.
Selama bulan Agustus 2000 ada lima kelompok pengeluaran konsumsi yang memberikan sumbangan/kontribusi terhadap inflasi diantaranya:Pertama, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,86%; kedua kelompok perumahan sebesar 0,37%; ketiga, kelompok kesehatan sebesar 0,44%; keempat, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 9,63%; kelima, kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,72%. Sementara itu, ada dua kelompok pengeluaran konsumsi yang memberikan sumbangan deflasi yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,87% dan kelompok sandang sebesar 0,62%.
Pendorong Inflasi
Tahun kalender 2000 masih empat bulan lagi (September-Desember). Namun, tampaknya factor-faktor pendukung laju inflasi telah berada didepan mata, diantaranya kenaikan tariff angkutan per 1 September 2000, rencana kenaikan BBM per Oktober 2000, Bulan Puasa/Ramadhan (November 2000), Natal dan Lebaran (Desember 2000).
Sebagaimana kita ketahui bahwa kenaikan tariff angkutan ini adalah resmi berdasarkan pada Surat Keputusan (SK) Menteri Perhubungan (Menhub) No. 59 Tahun 2000, dengan persetujuan Komisi IV DPR No. 152/KOM.IV/DPR-RI/2000 (SOLOPOS, 2/9-2000). Berdasarkan SK tersebut, maka PT Kereta Api Indonesia (KAI) menaikkan tariff untuk kelas ekonomi hingga 70% yang berlaku per 1 September 2000.
Sementara itu, untuk kelas eksekutif kenaikan tariff akan dilakukan sebelum lebaran. Penetapan seperti ini tentunya akan menjadi pertanyaan masyarakat pengguna jasa transportasi kereta api, mengapa justru untuk kelas ekonomi yang harus dinaikkan terlebih dahulu. Selain itu, seringkali kenaikan tariff angkutan tidak diikuti dengan peningkatan pelayanan yang semakin baik dan memuaskan bagi pengguna jasa transportasi.
Untuk jenis angkutan laut, tariff angkutan laut mengalami kenaikan sebesar 61% yang pada awalnya sebesar Rp. 133,44/penumpang/mil menjadi Rp. 215,66/penumpang/mil, dan diberlakukan mulai 1 September 2000. Penyesuaian tariff angkutan (kapal) laut tampaknya tertinggal disbanding dengan jenis angkutan darat dan udara yang sudah naik dulu.
Sedangkan untuk jenis angkutan taksi tariff awalnya mengalami kenaikan sebesar 50% dari Rp. 2.000,- menjadi Rp. 3.000,- dan tariff per kilometernya mengalami kenaikan sebesar 44% dari Rp. 90,- menjadi Rp. 130,-. Beberapa perusahaan armada taksi, pada saat pemberitahuan tariff baru, tampak masih menggunaka ketentuan tariff lama atau belum melakukan penyesuaian, karena mereka merasa belum memperoleh ketentuan kenaikan tariff tersebut. Disisi lain, para pengemudi taksi sendiri tampaknya agak kaget dengan ketentuan baru tersebut, mengingat bahwa pemberlakuan tariff baru tersebut akan berdampak pada menurunnya penghasilan mereka.
Pendek kata bahwa pemberlakuan ketentuan baru tentng kenaikan tariff angkutan tersebut perlu sosialisasi yang lebih intens. Mengingat hal itu sudah menjadi keputusan pemerintah, maka cepat atau lambat para pengusaha armada taksi akan menerapkan tariff baru tersebut.
Selain kenaikan tariff angkutan, tampaknya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) juga dapat menjadi pemicu inflasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa tampaknya pemerintah sudah bertekad bulat untuk memberlakukan kenaikan harga BBM bulan Oktober 2000 setelah ditunda pemberlakuannya pada bulan April yang lalu. BBM khususnya jenis premium, tampaknya sudah menjadi kebutuhan pokok untuk bahan bakar alat transportasi masyarakat bawah pada umumnya, seperti ojek, angkutan barang pedesaan, angkutan pedesaan, bus mini trayek antardesa, dan sejenisnya.
Dampak psikologis dari kenaikan tariff angkutan dan harga BBM secara beruntun akan menambah beban yang ditanggung oleh masyarakat pada umumnya menjadi semakin berat, khususnya masyarakat lapis bawah. Dengan naiknya tariff angkutan dan harga BBM, maka harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen menjadi semakin tinggi.
Namun, sayang pemberlakuan kenaikan tariff angkutan dan harga BBM tersebut disaat bangsa ini masaih dalam keterpurukan. Pendapatan perkapita sebelum terjadi krisis sempat hampir menyentuh US$1,000 per tahun, namun setelah dilanda krisis bisa jadi turun separohnya atau malah lebih rendah lagi. Disisi lain, tingkat pengangguran Indonesia juga masih tinggi sekitar 36 juta jiwa, sementara masyarakat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan juga cukup besar. Bagaimanapun mereka perlu memperoleh perhatian yang seksama dari semua pihak termasuk pemerintah tentunya.
Bulan puasa merupakan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan hidayah. Pegusaha juga akan memperoleh berkah dari hasil penjualan barang dan jasa kepada konsumen. Pada umumnya, omset penjualan selama bulan puasa, menjelang natal, lebaran dan tahun baru umumnya meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Mengingat pada saat itu permintaan terhadp berbagai kebutuhan pokok masyarakat mengalami kenaikan yang cukup signifikan, maka pada saat yang bersamaan para pengusaha mencoba menaikkan harga barang dan jasa. Kejadian-kejadian seperti itu bukanlah hal yang baru bagi masyarakat kita.
LAJU INFLASI DI INDONESIA
Liputan6.com, Jakarta: Bank Indonesia menargetkan laju inflasi berkisar antara 9 hingga 11 persen, hingga akhir tahun anggaran 2001. Sedangkan dalam revisi APBN 2001, pemerintah mematok tingkat inflasi tak lebih dari 9,3 persen. Sementara itu, kenyataannya, sampai Juli silam, laju inflasi telah mencapai 7,7 persen.
Itulah sebabnya, Gubernur BI Syahril Sabirin merasa optimistis laju inflasi tak akan melampaui target. Tingginya tingkat inflasi bulan Juli diakui sebagai akibat kenaikan tarif BBM Juni silam, yang memang biasanya baru terasa pengaruhnya sebulan sesudah kenaikan. Sementara itu, untuk bulan-bulan berikutnya BI yakin, dengan dukungan kebijakan ekonomi yang kondusif dari pemerintah, tingkat inflasi akan menurun.
Satu di antara indikatornya adalah nilai rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat, yang diharapkan dapat menurunkan harga barang-barang berbahan baku impor. Untuk mengendalikan laju inflasi, Syahril menyatakan BI masih tetap memberlakukan kebijakan uang ketat dengan menaikkan suku bunga Sertifikat BI. Kebijakan uang ketat ini akan dilonggarkan begitu rupiah mulai stabil.(RSB/Olivia Rosalia dan Agung Nugroho)
http://berita.liputan6.com/ekbis/200108/17597/BI.Optimistis.Mampu.Menekan.Laju.Inflasi
Itulah sebabnya, Gubernur BI Syahril Sabirin merasa optimistis laju inflasi tak akan melampaui target. Tingginya tingkat inflasi bulan Juli diakui sebagai akibat kenaikan tarif BBM Juni silam, yang memang biasanya baru terasa pengaruhnya sebulan sesudah kenaikan. Sementara itu, untuk bulan-bulan berikutnya BI yakin, dengan dukungan kebijakan ekonomi yang kondusif dari pemerintah, tingkat inflasi akan menurun.
Satu di antara indikatornya adalah nilai rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat, yang diharapkan dapat menurunkan harga barang-barang berbahan baku impor. Untuk mengendalikan laju inflasi, Syahril menyatakan BI masih tetap memberlakukan kebijakan uang ketat dengan menaikkan suku bunga Sertifikat BI. Kebijakan uang ketat ini akan dilonggarkan begitu rupiah mulai stabil.(RSB/Olivia Rosalia dan Agung Nugroho)
http://berita.liputan6.com/ekbis/200108/17597/BI.Optimistis.Mampu.Menekan.Laju.Inflasi
Laju inflasi Jateng 2009 sebesar 3,32%, Jadi Pondasi Pembangunan Ekonomi ke depan
Semarang -
Kalangan Perbankan saat ini masih dihadapkan pada permasalahan sebagai dampak krisis keuangan global. Namun demikian, dengan kerja keras yang dilakukan oleh dunia perbankan, lambat laun krisis dimaksud mampu diatasi, sehingga tidak berdampak luas bagi perekonomian bangsa. Hal ini ditandai dengan semakin bergairahnya dunia usaha di Indonesia dan Jawa Tengah pada khususnya. Oleh karena itu, Bank Indonesia sebagai pemangku kebijakan perbankan nasional diharapkan terus mengembangkan upaya inovatif dan meningkatkan kualitas pelayanan agar makin memantapkan kondusivitas perekonomian bagi para pelaku dunia usaha.
Hal itu dikatakan Gubernur Jawa Tengah dalam sambutan tertlis yang dibacakan oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Drs. Sriyadhi, MM pada pertemuan tahunan Perbankan 2010, di Kantor Bank Indonesia Semarang hari ini, Selasa (26/1). Forum tersebut dihadiri oleh Pimpinan Regional Bank Indonesia Jateng-DIY, segenap Dewan Komisaris dan Direksi Bank Indonesia Jateng-DIY, Kepala SKPD Provinsi Jawa Tengah.
Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah komulatif Triwulan I – III tahun 2009 sebesar 4,8% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu 4,2%, hendaknya kita tidak berpuas diri, karena ke depan masih ada peluang untuk dioptimalkan. Laju inflasi Jawa Tengah tahun 2009 sebesar 3,32% menjadi pondasi ekonomi yang baik bagi pembangunan ekonomi ke depan. Untuk itu, kita harus terus berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan laju inflasi di Jawa Tengah, sehingga kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan.
”Selain itu, kita juga harus terus berupaya meningkatkan ekspor yang selama tahun 2009 agak tertahan, sebagai akibat adanya krisis global,” tandas Gubernur.
Gubernur Bibit Waluyo mengingatkan bahwa Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk sebanyak 34,5 juta jiwa, 60 % diantaranya hidup di pedesaan. Kegiatan pembangunan daerah pelaksanaannya disemangati oleh gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso. Gerakan tersebut merupakan sebuah gerakan moral yang secara konseptual diarahkan pada penanganan permasalahan di pedesaan, utamanya pada sektor pertanian dalam arti luas dan Usaha Kecil Menengah Mikro (UMKM) di Jawa Tengah.
Menurutnya, secara filosofis, desa merupakan miniatur negara dengan segala potensi, sumberdaya dan permasalahannya, sehingga melalui penanganan dan langkah konkret untuk membangun desa berarti telah memberikan kontribusi dalam menangani sebagian besar permasalahan pembangunan. Oleh karena itu dia menilai, rapat tahunan ini sangat positif sebagai sarana untuk mengevaluasi program kerja sebelumnya dan memantapkan rencana kerja ke depan yang lebih konkret
“Dengan mencermati kondisi tersebut, mengindikasikan bahwa UMKM di Jawa Tengah mampu berperan menggiatkan roda perekonomian daerah, utamanya dalam penyerapan tenaga kerja di sektor industri kecil dan pertanian,” jelasnya.
Di sisi lain, bidang-bidang pembangunan yang dinilai berperan besar sebagai “penghela” ekonomi, telah berkembang, meskipun masih perlu dioptimalkan dan disinergikan, sehingga menarik laju perkembangan sektor yang lain. Bidang pembangunan yang berperan sebagai penghela tersebut yaitu Pertanian dalam arti luas, UKM/IKM yang berorientasi ekspor, dan pariwisata berbasis ekonomi kerakyatan. Terkait dengan hal itu, dukungan dunia perbankan di Jawa Tengah sangat dibutuhkan untuk ikut mendorong dan meningkatkan sektor-sektor ekonomi tersebut dengan penyaluran kredit lunak kepada sektor pertanian yang masih sangat rendah dibandingkan dengan sektor industri dan perdagangan.
Gubernur Jateng minta agar mencermati beberapa hal sebagai pertimbangan perumusan kebijakan perbankan, antara lain pertama, Perbankan Indonesia di Jawa Tengah, kiranya perlu menambah alokasi pemberian Skim Kredit, utamanya pada UMKM dan sektor pertanian di perdesaan guna mendorong produktivitas dan ketersediaan sarana dan prasarana yang dapat menggerakkan perekonomian daerah. Dukungan Skim Kredit ini sangat penting, antara lain untuk pembangunan resi gudang penyimpanan hasil pertanian dan pengadaan mesin pengolah hasil pertanian,
kedua, perlu dikaji lebih cermat tentang rumusan kebijakan fiskal terhadap produk impor yang masuk ke Indonesia, sehingga dapat memberikan proteksi terhadap produk lokal agar tidak mematikan produsen lokal, utamanya produk yang dihasilkan dari UMKM di pedesaan.
Selain itu, dunia perbankan di Jawa Tengah juga saya minta ikut mendukung pembiayaan proyek pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah, sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan daya saing ekonomi Jawa Tengah. Untuk pemberdayaan UMKM, kami memberikan apre-siasi kepada perbankan yang telah berpartisipasi aktif, sehingga ke depan diharapkan UMKM akan semakin meningkat.
Khusus kepada Bank Indonesia, Gubernur Bibit Waluyo juga memberikan apresiasi atas upayanya selama ini lebih memperhatikan UMKM. Upaya yang ditempuh Kantor Bank Indonesia (KBI) Semarang bersama dunia perbankan dan Pemerintah Pro-vinsi Jawa Tengah dalam Satuan Tugas Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) perlu terus didayagunakan agar menjadikan UMKM sebagai entitas bisnis yang siap menjalankan usahanya secara sustainable, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan UMKM dengan berbasis klaster, yang saat ini sedang dikembangkan oleh Bank Indonesia, diharapkan dapat membantu UMKM dan industri kecil padat karya untuk makin berkembang. Perkembangan mereka sebaiknya diarahkan kepada penggunaan teknologi dan kualitas desain yang semakin meningkat. Kiranya tidak berlebihan jika saya kemukakan perlunya pertimbangan etis perbankan, agar tidak terlampau mementingkan core business-nya saja, tetapi juga peka dan tanggap serta memberikan perhatian yang optimal tanpa meninggalkan prinsip prudensial terhadap masyarakat dan lingkungan di mana perbankan menjalankan operasinya.
Ditambahkan, peluang ekspor ke berbagai negara masih terbuka luas. ”Kita jangan hanya terpaku pada negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat saja, tetapi juga membuka peluang ke wilayah Timur Tengah dan Eropa Timur,” pintanya.
Beberapa misi dagang yang dilakukan bekerjasama dengan KADIN telah menuju ke arah itu. Penerapan ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) pada tahun ini memberikan tantangan kepada kita untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kualitas, agar produk kita mampu bersaing di pasar bebas ACFTA ini, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.
”Saya sangat mendukung upaya pengendalian inflasi di Jawa Tengah, yang dilakukan secara lintas instansi melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Harga (TPPH) Provinsi Jawa Tengah. Saya sudah sering menerima rekomendasi TPPH setiap bulan, mengenai perkembangan harga terkini dan upaya antisipasi ke depan,” tambahnya. Dia berharap, tim ini mampu bekerja lebih baik lagi, dan menghasilkan informasi yang semakin berkualitas. (Humas_*BS)
Sunday, November 7, 2010
BI: Laju inflasi 2 pekan lampaui normal
JAKARTA (Bisnis.com): Bank Indonesia mulai melihat adanya tekanan harga barang dalam dua pekan pertama tahun ini, dengan proyeksi inflasi di bawah 0,5%.
Berdasarkan pemantauan Bank Indonesia, kata Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dalam dua pekan pertama 2010 laju inflasi rata-rata sedikit di atas biasanya. Namun, dia tidak menyebutkan berapa laju inflasi normal yang dimaksud, hanya saja dia menyebutkan masih di bawah 0,5% (month to month).
"Sebetulnya kalau melihat dua minggu pertama, [laju inflasi] memang sedikit lebih tinggi dari normalnya. Sedikit di bawah 0,5%," jelas dia ketika berkunjung ke Departemen Keuangan, hari ini.
Kendati demikian, lanjutnya, laju inflasi rata-rata sepanjang tahun ini masih akan berada di kisaran awal Bank Indonesia, yakni sebesar 5% plus/minus 1%.
Sementara itu, pemerintah baru-baru ini mengubah proyeksi inflasi 2010 dari 5% menjadi 5,5%. Pasalnya, pemerintah melihat adanya potensi tekanan harga komoditas akibat kenaikan permintaan dunia seiring
dengan pemulihan ekonomi global.(er)
Inflasi Indonesia Diperkirakan Capai 6% oleh Kenaikan TDL dan Jelang Puasa-Lebaran
(Vibiznews – Economy) – Inflasi di Indonesia untuk tahun 2010 ini diharapkan akan berada di atas level 6%. Memang Bank Indonesia sendiri telah menetapkan target inflasi pada kisaran 4 – 6% untuk tahun 2010 ini. Akan teatpi para analis memandang tercapainya inflasi di bawah 6% membutuhkan kerja ekstra keras dan kurang mencerminkan kondisi riil saat ini. (28/07)
Pada tahun 2009 lalu Bank Dunia memperkirakan bahwa tingkat inflasi di Indonesia pada tahun 2010 hanya akan mencapai level 5.4%, setelah pada tahun 2009 realisasi inflasi berada pada posisi 2.9%. Akan tetapi seiring dengan adanya kebijakan kenaikan tariff dasar listrik (TDL), tampaknya pemerintah harus terpaksa mengakui bahwa tingkat inflasi tersebut sulit untuk dicapai.
Tekanan Inflasi di Semester II Naik Imbas Kenaikan TDL dan Hari Raya
Kenaikan TDL yang secara resmi diberlakukan pada tanggal 1 Juli lalu telah menuai banyak pro dan kontra. Langkah pemerintah untuk mengurangi beban subsidi tampak ditanggapi dingin oleh masyarakat luas, baik pengguna perorangan maupun pengguna industri. Tujuan kenaikan TDL ini dimaksudkan untuk mengendalikan besaran subsidi listrik yang mencapai Rp 55.1 trilyun pada tahun 2010.
Pemerintah menyatakan bahwa kenaikan TDL sebesar rata-rata 10% mulai tanggal 1 Juli relative tidak terlalu berpengaruh terhadap inflasi. Bank Indonesia juga memperkirakan rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) mulai awal Juli 2010, tidak banyak mempengaruhi inflasi.
Menurut Deputi Gubernur BI, S.Budi Rochadi, jika TDL hanya dinaikkan untuk pelanggan golongan daya di atas 900 VA, inflasi hanya akan mengalami kenaikan sebesar 0.2%. Akan tetapi jika dinaikan secara keseluruhan, semua pelanggan dengan semua daya, maka diperkirakan inflasi naik sekitar 0.4%.
Di lain pihak masyarakat merasa di beratkan akibat kenaikan TDL ini. Menurut mereka kenaikan TDL akan memicu kenaikan kebutuhan pokok lain, sehingga meskipun porsi listrik terhadap perhitungan inflasi kecil, kenaikan harga barang pokok akibat efek domino kenaikan TDL akan menjadikan inflasi yang cukup besar.
Ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika mengatakan, pemerintah akan kesulitan mengendalikan laju inflasi dan ekspektasi masyarakat menyusul kenaikan TDL. Menurutnya yang tidak bisa dikontrol pemerintah itu, pemerintah manapun di dunia ini, adalah ekspektasi. Dan itu dalam jumlah yang signifikan.
Dalam simulasi sederhana, kenaikan TDL sebesar 10-15% itu hanya akan menaikkan inflasi sebesar 0.25%. Tapi yang tidak bisa diisolasi pemerintah itu adalah ekspektasi masyarakat dan dampaknya di sektor-sektor lain seperti bahan makanan.
Di samping kenaikan TDL yang ditegaskan memberatkan, dampak ini juga lebih terasa karena waktu penetapan kenaikan TDL ini bertepatan dengan jelang puasa. Seperti yang lazim terjadi, kenaikan bahan kebutuhan pokok jelang puasa dan lebaran merupakan sesuatu yang pasti. Kondisi ini tentunya akan menambah beban ekspektasi inflasi di tingkat masyarakat.
Inflasi 6% Bukan Masalah Heboh
Akan tetapi menurut ekonom M. Chatib Basri dari Universitas Indonesia, peningkatan laju inflasi hingga 6,0% bukan merupakan masalah serius yang harus dikhawatirkan karena dalam sejarah inflasi Indonesia biasanya selalu mencapai kisaran 8-9%,
dan salah satu yang bisa menahan laju inflasi adalah adanya apresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
"Karena impor dalam dolar, kalau murah kemudian harga di dalam negeri juga lebih rendah sehingga inflasi juga lebih rendah, APBN 2010 menetapkan asumsi inflasi selama 2010 sebesar 5,0% namun kemudian dalam RAPBNP 2010, pemerintah menaikan asumsi inflasi menjadi 5,7%,” ujarnya.
(Ika Akbarwati/IA/vbn)
http://www.vibiznews.com/column/economy/2010/07/28/inflasi-indonesia-diperkirakan-capai-6-oleh-kenaikan-tdl-dan-jelang-puasalebaran
Pada tahun 2009 lalu Bank Dunia memperkirakan bahwa tingkat inflasi di Indonesia pada tahun 2010 hanya akan mencapai level 5.4%, setelah pada tahun 2009 realisasi inflasi berada pada posisi 2.9%. Akan tetapi seiring dengan adanya kebijakan kenaikan tariff dasar listrik (TDL), tampaknya pemerintah harus terpaksa mengakui bahwa tingkat inflasi tersebut sulit untuk dicapai.
Tekanan Inflasi di Semester II Naik Imbas Kenaikan TDL dan Hari Raya
Kenaikan TDL yang secara resmi diberlakukan pada tanggal 1 Juli lalu telah menuai banyak pro dan kontra. Langkah pemerintah untuk mengurangi beban subsidi tampak ditanggapi dingin oleh masyarakat luas, baik pengguna perorangan maupun pengguna industri. Tujuan kenaikan TDL ini dimaksudkan untuk mengendalikan besaran subsidi listrik yang mencapai Rp 55.1 trilyun pada tahun 2010.
Pemerintah menyatakan bahwa kenaikan TDL sebesar rata-rata 10% mulai tanggal 1 Juli relative tidak terlalu berpengaruh terhadap inflasi. Bank Indonesia juga memperkirakan rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) mulai awal Juli 2010, tidak banyak mempengaruhi inflasi.
Menurut Deputi Gubernur BI, S.Budi Rochadi, jika TDL hanya dinaikkan untuk pelanggan golongan daya di atas 900 VA, inflasi hanya akan mengalami kenaikan sebesar 0.2%. Akan tetapi jika dinaikan secara keseluruhan, semua pelanggan dengan semua daya, maka diperkirakan inflasi naik sekitar 0.4%.
Di lain pihak masyarakat merasa di beratkan akibat kenaikan TDL ini. Menurut mereka kenaikan TDL akan memicu kenaikan kebutuhan pokok lain, sehingga meskipun porsi listrik terhadap perhitungan inflasi kecil, kenaikan harga barang pokok akibat efek domino kenaikan TDL akan menjadikan inflasi yang cukup besar.
Ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika mengatakan, pemerintah akan kesulitan mengendalikan laju inflasi dan ekspektasi masyarakat menyusul kenaikan TDL. Menurutnya yang tidak bisa dikontrol pemerintah itu, pemerintah manapun di dunia ini, adalah ekspektasi. Dan itu dalam jumlah yang signifikan.
Dalam simulasi sederhana, kenaikan TDL sebesar 10-15% itu hanya akan menaikkan inflasi sebesar 0.25%. Tapi yang tidak bisa diisolasi pemerintah itu adalah ekspektasi masyarakat dan dampaknya di sektor-sektor lain seperti bahan makanan.
Di samping kenaikan TDL yang ditegaskan memberatkan, dampak ini juga lebih terasa karena waktu penetapan kenaikan TDL ini bertepatan dengan jelang puasa. Seperti yang lazim terjadi, kenaikan bahan kebutuhan pokok jelang puasa dan lebaran merupakan sesuatu yang pasti. Kondisi ini tentunya akan menambah beban ekspektasi inflasi di tingkat masyarakat.
Inflasi 6% Bukan Masalah Heboh
Akan tetapi menurut ekonom M. Chatib Basri dari Universitas Indonesia, peningkatan laju inflasi hingga 6,0% bukan merupakan masalah serius yang harus dikhawatirkan karena dalam sejarah inflasi Indonesia biasanya selalu mencapai kisaran 8-9%,
dan salah satu yang bisa menahan laju inflasi adalah adanya apresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
"Karena impor dalam dolar, kalau murah kemudian harga di dalam negeri juga lebih rendah sehingga inflasi juga lebih rendah, APBN 2010 menetapkan asumsi inflasi selama 2010 sebesar 5,0% namun kemudian dalam RAPBNP 2010, pemerintah menaikan asumsi inflasi menjadi 5,7%,” ujarnya.
(Ika Akbarwati/IA/vbn)
http://www.vibiznews.com/column/economy/2010/07/28/inflasi-indonesia-diperkirakan-capai-6-oleh-kenaikan-tdl-dan-jelang-puasalebaran
Laju inflasi sepanjang 2009 terendah dalam sejarah
Jakarta– Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi sepanjang tahun 2009 mencapai 2,78% jauh di bawah target. Pada Desember, inflasi hanya sebesar 0,33 persen.
“Ini seperti perkiraan kami, inflasi di bawah 3 persen akan terjadi,” ujar Kepala BPS, Rusman Heriawan di Jakarta, Senin (4/1).
Inflasi sebesar 2,78 persen tercatat sebagai inflasi terendah sepanjang sejarah Indonesia. Selama ini, inflasi Indonesia cenderung di atas 5 persen.
Angka ini jauh dari perkiraan pemerintah dan bank Indonesia. Di indikator makro APBN 2009, pemerintah memperkirakan inflasi sepanjang tahun itu sebesar 5 persen. Sedangkan, BI memperkirakan inflasi sebesar 5 persen plus minus 1 persen.
Rusman menjelaskan laju inflasi yang rendah sepanjang 2009 disebabkan oleh terjadinya deflasi pada barang-barang yang harganya ditetapkan oleh pemerintah, seperti bahan bakar minyak dan listrik. Untuk harga barang yang ditetapkan pemerintah malah terjadi deflasi minus 3,26 persen.
“Sepanjang 2009 tidak ada kebijakan kenaikan harga, malahan harganya turun,” kata Rusman.
Ini berbeda dengan harga barang komoditas yang berada di luar kendali pemerintah. Menurut dia, harga komoditas itu bergejolak sehingga menimbulkan inflasi 3,95 persen.
dtc/iswhttp://www.solopos.com/2010/channel/nasional/laju-inflasi-sepanjang-2009-terendah-dalam-sejarah-11040
“Ini seperti perkiraan kami, inflasi di bawah 3 persen akan terjadi,” ujar Kepala BPS, Rusman Heriawan di Jakarta, Senin (4/1).
Inflasi sebesar 2,78 persen tercatat sebagai inflasi terendah sepanjang sejarah Indonesia. Selama ini, inflasi Indonesia cenderung di atas 5 persen.
Angka ini jauh dari perkiraan pemerintah dan bank Indonesia. Di indikator makro APBN 2009, pemerintah memperkirakan inflasi sepanjang tahun itu sebesar 5 persen. Sedangkan, BI memperkirakan inflasi sebesar 5 persen plus minus 1 persen.
Rusman menjelaskan laju inflasi yang rendah sepanjang 2009 disebabkan oleh terjadinya deflasi pada barang-barang yang harganya ditetapkan oleh pemerintah, seperti bahan bakar minyak dan listrik. Untuk harga barang yang ditetapkan pemerintah malah terjadi deflasi minus 3,26 persen.
“Sepanjang 2009 tidak ada kebijakan kenaikan harga, malahan harganya turun,” kata Rusman.
Ini berbeda dengan harga barang komoditas yang berada di luar kendali pemerintah. Menurut dia, harga komoditas itu bergejolak sehingga menimbulkan inflasi 3,95 persen.
dtc/iswhttp://www.solopos.com/2010/channel/nasional/laju-inflasi-sepanjang-2009-terendah-dalam-sejarah-11040
ANALISIS EKONOMETRIKA TERHADAP PENDUGAAN LAJU PERKEMBANGAN INFLASI DI INDONESIA TAHUN 1998-2003
Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 secara berangsur-angsur mereda dan menjelang akhir tahun 1998-1999 telah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Dimana, indikator suatu Negara dapat dilihat dari prosentase Produk Domestik Bruto (PDB) dan laju inflasi. Inflasi terjadi bila tingkat harga umum mengalami peningkatan sehingga nilai uang relatif mengalami penurunan. Indonesia sejak Maret 1979 secara resmi menggunakan IHK sebagai indikator ekonomi. Selain itu, faktor penentu yang paling mempengaruhi laju inflasi antara lain jumlah uang beredar, nilai tukar $ terhadap Rupiah, pertumbuhan PDB, serta tingkat suku bunga deposito beijangka. Dalam penelitian Tugas Akhir ini, metode yang digunakan adalah persamaan simultan dengan 3 model persamaan dan 3 variabel endogen. Persamaan simultan digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara nilai tukar dan jumlah uang beredar serta faktor-faktor yang mempengaruhi laju perkembangan inflasi di Indonesia pada periode tahun 1998 - 2003. Setelah dilakukan analisis data dan pembahasan dapat diketahui bahwa hasil identifikasinya berupa Jusi/ Exactly Identifled yang cara penyelesaiannya dengan menggunakan metode 2SLS. Dari hasil metode 2SLS maka didapatkan model persamaan sebagai berikut: Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini, diketahui bahwa variabel yang signifikan terhadap laju perkembangan inflasi adalah jumlah uang beredar (Mt). Hasil yang di dapatkan sesuai dengan teori dan fenomena Ekonomi yang terjadi. Sedangkan semua variabel bebas dalam persamaan uang beredar yaitu laju inflasi (IHKt), Produk Domestik Bruto (Yt), nilai tukar (NTt), tingkat suku bunga (RDt) signifikan yang artinya semua variabel bebas tersebut memang mempengaruhi jumlah uang yang beredar (Mt) di masyarakat. Untuk persamaan nilai tukar (NTt), faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain laju inflasi (IHKt), tingkat suku bunga (RDt), nilai ekspor (HEMt) dan impor (HIMt).
http://digilib.its.ac.id/ITS-NonDegree-3100004020761/8672
http://digilib.its.ac.id/ITS-NonDegree-3100004020761/8672
LAJU INFLASI DI INDONESIA
Jakarta - Laju inflasi yang tinggi selalu menjadi masalah perekonomian di Indonesia, namun Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan laju inflasi di Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.
"Inflasi Indonesia sampai 600% waktu itu pernah terjadi di Orde Lama. Tahun 2005 pemerintah memutuskan BBM dinaikkan saja, inflasi jadi 17% saja rakyat terus sudah ngamuk. Di sini masih lebih baik tidak seperti di Zimbabwe yang saat ini inflasinya 7.000%, jadi duit itu beli bakso Rp 7.000 perak, jam 12 sudah jadi Rp 10.000," tuturnya dalam acara olimpiade APBN Tingkat SMA di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (5/8/2009).
Dalam kesempatan itu juga Sri Mulyani menyampaikan terkait APBN, dirinya sebagai pemegang kuasa anggaran negara akan sangat ketat dalam melakukan seleksi dan menyetujui anggaran yang diajukan kementerian dan lembaga yang ada.
"Menyusun APBN secara prinsip sama dengan belanja. Mungkin karena menkeunya cewek mengerti dan senang belanja. Menteri pertanian bilang begini begitu kayak dampak el nino dibutuhkan anggaran lebih, Menteri ESDM minta subsidi, Menhub minta dibikin pelabuhan, seperti itu. Jadi mana yang bisa dipotong, yang bisa dirasionalkan," jelasnya.
Sebab menurutnya jika menteri keuangan tidak selektif dalam menyetujui anggaran kementerian dan lembaga maka defisit anggaran akan meningkat. "Kalau (anggaran) tidak bisa (dipotong) ya kita harus defisit, artinya pinjam. Waktu zaman Pak Soekarno defisit sangat kronis. Pinjem-pinjem masih kurang maka suruh cetak duit. Karena BI tidak independen. Maka tinggal minta uang dicetak sebanyak-banyaknya, misalnya untuk bikin Monas kita cetak duit banyak," ucapnya.
http://www.detikfinance.com/read/2009/08/05/102016/1177661/4/sri-mulyani-inflasi-indonesia-lebih-baik-dari-zimbabwe
"Inflasi Indonesia sampai 600% waktu itu pernah terjadi di Orde Lama. Tahun 2005 pemerintah memutuskan BBM dinaikkan saja, inflasi jadi 17% saja rakyat terus sudah ngamuk. Di sini masih lebih baik tidak seperti di Zimbabwe yang saat ini inflasinya 7.000%, jadi duit itu beli bakso Rp 7.000 perak, jam 12 sudah jadi Rp 10.000," tuturnya dalam acara olimpiade APBN Tingkat SMA di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (5/8/2009).
Dalam kesempatan itu juga Sri Mulyani menyampaikan terkait APBN, dirinya sebagai pemegang kuasa anggaran negara akan sangat ketat dalam melakukan seleksi dan menyetujui anggaran yang diajukan kementerian dan lembaga yang ada.
"Menyusun APBN secara prinsip sama dengan belanja. Mungkin karena menkeunya cewek mengerti dan senang belanja. Menteri pertanian bilang begini begitu kayak dampak el nino dibutuhkan anggaran lebih, Menteri ESDM minta subsidi, Menhub minta dibikin pelabuhan, seperti itu. Jadi mana yang bisa dipotong, yang bisa dirasionalkan," jelasnya.
Sebab menurutnya jika menteri keuangan tidak selektif dalam menyetujui anggaran kementerian dan lembaga maka defisit anggaran akan meningkat. "Kalau (anggaran) tidak bisa (dipotong) ya kita harus defisit, artinya pinjam. Waktu zaman Pak Soekarno defisit sangat kronis. Pinjem-pinjem masih kurang maka suruh cetak duit. Karena BI tidak independen. Maka tinggal minta uang dicetak sebanyak-banyaknya, misalnya untuk bikin Monas kita cetak duit banyak," ucapnya.
http://www.detikfinance.com/read/2009/08/05/102016/1177661/4/sri-mulyani-inflasi-indonesia-lebih-baik-dari-zimbabwe
LAJU INFLASI DI INDONESIA
Bank Dunia: Laju Inflasi Indonesia Terendah Dibanding Negara Tetangga
Jakarta, 23/06/2010 MoF (Fiscal) News - Laju inflasi Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan yang dialami oleh negara-negara tetangga sejak petengahan 2009. Hal ini disampaikan Lead Economist World Bank’s Jakarta Shubham Chaudri dalam seminar bertajuk “Indonesian Economic Quarterly Report” yang digelar di Gedung Energy, Jakarta, pada Rabu (17/06) .
Shubham pun memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya inflasi di Indonesia. Solidnya pengaturan harga energi yang diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia, diakui Shubham membuat harga konsumen Indonesia tidak terpengaruh oleh melambungnya harga energi dunia pada awal tahun 2009. Selain itu, faktor pemulihan nilai tukar Rupiah yang relatif stabil juga turut memiliki andil besar dalam menekan laju inflasi.
Namun, Shubham juga menjabarkan beberapa faktor yang berpotensi akan melambungkan inflasi Indonesia jelang tahun 2011. “Naiknya harga komoditas yang disebabkan oleh tingginya demand, nampaknya akan menjadi penyebab utama,” papar Shubham. Faktor lain yang turut mendorong laju inflasi yaitu naiknya tarif dasar listrik sebesar 10%. Seperti diketahui, pemerintah berencana akan mulai memberlakukan tarif dasar listrik yang baru mulai bulan Juli mendatang.(uno)
LAJU INFLASI DI INDONESIA
Inflasi
|
|
[sunting] Perekonomian
Tanda-tanda perekonomian mulai mengalami penurunan adalah ditahun 1997 dimana pada masa itulah awal terjadinya krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 persen, sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang 7,8 persen. Kondisi keamanan yang belum kondusif akan sangat mempengaruhi iklim investasi di Indonesia. Mungkin hal itulah yang terus diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas kegiatan ekonomi yang berdampak pada penerimaan negara serta pertumbuhan ekonominya. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi dimasa mendatang. Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan meningkatnya pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri.Namun semua itu bisa terwujud apabila kondisi keamanan dalam negeri benar-benar telah kondusif. Kebijakan pemerintah saat ini didalam pemberantasan terorisme, serta pemberantasan korupsi sangat turut membantu bagi pemulihan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator makro ekonomi menggambarkan kinerja perekonomian suatu negara akan menjadi prioritas utama bila ingin menunjukkan kepada pihak lain bahwa aktivitas ekonomi sedang berlangsung dengan baik pada negaranya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi_dan_perekonomian_Indonesia
Subscribe to:
Comments (Atom)